Thursday, August 7, 2008


Pagi itu aku tengah sibuk membenahi kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang
baru kutempati sejak sebulan lalu. Maklum, kamar berukuran 3 x 4 meter itu
berdinding papan dan terletak di bagian belakang rumah bersebelahan dengan
kamar mandi. Apalagi papannya sudah banyak yang renggang dan berlubang
hingga bila malam tiba, angin gampang menerobos masuk dan menebarkan hawa
dingin menusuk tulang. Hanya bagiku, mendapatkan kamar kost dengan kondisi
seperti itu pun merupakan anugerah tersendiri.

Sebelumnya aku nyaris patah semangat ketika mendapati harga sewaan kamar
yang rata-rata sangat mahal dan tak terjangkau di kota tempatku kuliah di
sebuah PTN. Hingga ketika Bu Halimah pemilik warung makan sederhana
menawariku untuk tinggal di tempatnya dengan harga sewa yang murah aku
langsung menyetujuinya.

Oh ya, Bu Halimah, ibu kostku itu adalah seorang janda berusia sekitar 45
tahun. Sejak kematian suaminya tujuh tahun lalu, ia tinggal bersama putri
tunggalnya Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di sebuah SMTA di kota
itu. Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana yang dikelola Bu
Halimah dibantu Yu Narsih, seorang wanita tetangganya. Yu Narsih hanya
membantu di rumah itu sejak pagi hingga petang setelah warung makan
ditutup. Pembawaan keseharian Bu Halimah tampak sangat santun. Ia selalu
mengenakan busana terusan panjang terutama bila tampil di luar rumah atau
sedang melayani pembeli di warungnya. Hingga kendati berstatus janda
dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau
menggoda.
"Ada memang laki-laki yang meminta ibu untuk menjadi istrinya. Tetapi ibu
hanya ingin membesarkan Nastiti sampai ia berumah tangga. Apalagi sangat
sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum," katanya
suatu ketika aku berkesempatan berbincang dengannya di suatu kesempatan.

Di tengah kesibukanku memperbaiki dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara
pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama berselang kudengar suara pancaran
air yang menyemprot kencang dari kamar mandi. Padahal di sana tidak ada
kran air yang memungkinkan menimbulkan bunyi serupa. Maka seiring dengan
rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku segera mencari celah lubang di
dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk bisa mengintipnya. Ah,
ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu Halimah. Wanita itu tengah
kencing sambil berjongkok. Mungkin ia sangat kebelet kencing hingga begitu
berjongkok semprotan air yang keluar dari kemaluannya menimbulkan suara
berdesir yang cukup kencang sampai ke telingaku. Aku jadi tersenyum simpul
melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak berniat melanjutkan untuk
mengintip. Namun ketika sempat kulihat pantat besar Bu Halimah yang
membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi terpikat. Posisi jongkok
Bu Halimah memang membelakangiku. Namun karena ia menarik tinggi-tinggi
daster yang dikenakannya, aku dapat melihat pantat dan pinggulnya.

Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata belum banyak kehilangan daya
pikatnya sebagai wanita. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk terus
mengintip, melihat adegan lanjutan yang dilakukan ibu kostku di kamar
mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin dibuatnya. Betapa tidak,
setelah selesai kencing, Bu Halimah langsung mencopot dasternya untuk
digantungkannya pada sebuah tempat gantungan yang tersedia. Tampak ia
telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana dalam
maupun kutangnya. Jadilah aku bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-liku
tubuhnya. Bongkahan pantatnya tampak sangat besar kendati bentuknya telah
agak menggantung. Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak menggantung,
ukurannya juga tergolong besar dengan dihiasi sepasang pentilnya yang
mencuat dan berwarna kecoklatan.

Namun yang membuatku kian panas dingin adalah adegan lanjutan yang
dilakukannya setelah ia mulai mengguyur air dan menyabuni tubuhnya. Sebab
setelah hampir sekujur tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama
memainkan kedua tangannya di kedua susu-susunya. Meremas-remas dan
sesekali memilin puting-putingnya. Sepertinya ia tengah berusaha
membangkitkan dan memuasi birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan
satu tangan yang masih menggerayang dan meremas di buah dadanya, satu
tangannya yang lain menelusur ke selangkangannya dan berhenti di
kemaluannya yang membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu
rambut itu, berkali-kali diusap-usapnya dan akhirnya salah satu jarinya
menerobos ke celahnya. Ah, ia juga mengeluar-masukkan jarinya ke liang
kenikmatannya. Bahkan seperti tidak puas dengan satu jari tengah
tangannya, jari telunjuknya pun ikut dimasukannya. Hingga akhirnya kedua
jarinya yang digunakan untuk mencolok-colok vaginanya.

Aku yakin Bu Halimah melakukan semua itu sambil membayangkan bahwa yang
mencolok-colok liang kenikmatannya adalah penis seorang laki-laki.
Terbukti ia melakukan sambil merem-melek dan mendesah. Membuktikan bahwa
ia mendapatkan kenikmatan atas yang tengah dilakukannya. Disodori
pertunjukkan panas yang diperagakan ibu kostku, aku kian tak tahan.
Kukeluarkan kemaluanku yang telah ikut mengeras dari celana setelah
membuka risleting. Kuremas-remas sendiri penisku sambil membayangkan
menyetubuhinya yang tengah bermasturbrasi.

Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat mengejang, karena menahan birahi yang
tak terbendung dan seiring dengan datangnya puncak kenikmatan yang
didambakan, aku pun kian kencang meremas dan mengocok kemaluanku sambil
terus memelototi tingkah polahnya. Dan tubuhku ikut mengejang dan melemas
ketika dari ujung penisku memuntahkan mani yang menyembur cukup banyak.
Dia tampak kaget dan mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang
berbatasan dengan kamarku. Mungkin ia sempat mendengar erangan lirih
suaraku yang tak sadar sempat kukeluarkan saat mendapatkan orgasme. Namun
karena aku segera menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku.
Tetapi,.. ah.. entahlah.

Hanya sejak saat itu aku sering mencari kesempatan untuk mengintipnya saat
ia mandi. Bahkan juga mengintip ke kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia
memang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan
biologisnya, selama ini wanita itu mendapatkannya dari bermasturbrasi.
Hingga aku sering memergoki ia melakukannya di kamarnya. Dan seperti Dia,
setiap aku mendapatkan kesempatan untuk melihat ketelanjangannya, selalu
aku melanjutkan dengan mengocok sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil
membayangkan menyetubuhi ibu kostku itu. Sampai akhirnya, mengintip ibu
kostku merupakan acara rutin di setiap kesempatan seiring dengan gairah
birahiku yang kian menggelegak.

Sampai suatu malam, setelah sekitar enam bulan tinggal di rumahnya, aku
bermaksud keluar kamar untuk menonton televisi di ruang tamu. Maklum sejak
sore aku terus berkutat dengan diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan
paper salah satu mata kuliah. Namun yang kutemukan di ruang tamu membuatku
sangat terpana. Televisi 17 inchi yang ada memang masih menyala dan tengah
menyiarkan satu acara infotainment dan disetel dengan volume cukup keras.
Namun satu-satunya penonton yang ada, yakni Dia, tampak tertidur pulas. Ia
tidur dengan menyelonjorkan kaki di sofa, sementara daster yang
dikenakannya tersingkap cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya
nampak menyembul terbuka. Biasanya aku akan membangunkan dan
megingatkannya untuk tidur di kamarnya bila memergoki ibu kostku tertidur
di ruang tamu. Tetapi itu tidak kulakukan, sayang kalau pemandangan yang
menggairahkan sampai terlewatkan.

Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu menggeliat dan posisi kakinya kian
terbuka hingga mengundangku untuk melihatnya lebih mendekat. Berjongkok di
antara kedua kakinya. Kini bukan hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati.
Aku juga dapat melihat organ miliknya yang paling rahasia karena ia tidak
mengenakan celana dalam. Bibir luar kemaluannya terlihat coklat kehitaman
dan nampak berkerut. Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan
pria. Sementara di celahnya, di bagian atas, tampak kelentitnya yang
sebesar biji jagung terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan tubuh ibu
kostku sebenarnya telah cukup sering kulakukan saat mengintip. Namun
melihatnya dari jarak yang cukup dekat baru kali itu kulakukan. Degup
jantungku jadi terpacu, sementara penisku langsung menegang. Aku nyaris
mengulurkan tanganku untuk mengusap vaginanya untuk merasakan lembutnya
bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau merasakan hangatnya celah lubang
kenikmatan itu.

Tetapi takut resiko yang harus kutanggung bila ia terbangun dan tidak
menyukai ulahku, aku urungkan niatku tersebut. Dan tak tahan terpanggang
oleh gairah yang memuncak, kuputuskan untuk kembali ke kamar. Untuk
beronani, meredakan ketegangan yang meninggi. Di dalam kamar, kulepaskan
seluruh pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran telanjang diatas ranjang
setelah sebelumnya menarik kain selimut untuk menutupi tubuh. Seperti
itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan keindahan tubuh dan
menyetubuhi ibu kostku. Hanya, baru saja aku mulai mengelus burungku yang
tegak berdiri tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang tak sempat terkunci
dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam.
"Hayo, lagi ngocok yah," suara Dia mengagetkanku.
Ternyata yang membuka pintu dan masuk kekamarku adalah ibu kostku.
"Ti,.. tidak," jawabku dan secara reflek segera kutarik selimut untuk
menutupi tubuhku.
"Jangan bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering mengintip ibu saat mandi
atau dikamar. Juga tadi kamu melihati milik ibu saat tidur di sofa kan?"
katanya lirih seperti berbisik.

Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi malu dan menjadi tegang. Takut
kepada kemarahan Dia atas semua ulah yang tidak pantas kulakukan. Penisku
yang tadi tegak menantang kini mengkerut, seiring dengan kehadiran wanita
itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang telah menelanjangiku. Aku
membungkam tak dapat bisa bicara.
"Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris. Malah, ee.. ibu bangga ada anak
muda yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau,
sekarang kamu boleh melihat semuanya milik ibu dari dekat dan kamu boleh
melakukan apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia serapat-rapatnya,"
ujarnya.

Aku masih belum tahu arah pembicaraan ibu kostku hingga hanya diam
membisu. Tetapi, Dia telah melepas daster yang dikenakannya. Dan dengan
telanjang bulat, setelah sebelumnya mengunci pintu kamar, ia menghampiriku
yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi ranjang di sebelahku. Tak
urung gairahku kembali terpacu kendati hanya menatapi ketelanjangan tubuh
wanita yang lebih pantas menjadi ibuku itu.
"Ayo Tris, jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin
memegang punya aku kan? Ayo lakukan semua yang ingin dilakukan padaku,"
suaranya terdengar berat ketika mengucapkan itu.

Mungkin ia telah bernafsu dan ingin disentuh. Melihat aku tidak bereaksi,
aku kostku akhirnya mengambil insiatif. Tangannya menjulur, menarik
selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Batang penisku yang tegak
mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas.

Selanjutnya
mengelus-elusnya perlahan hingga aku menjadi kelabakan oleh
sentuhan-sentuhan lembut tangannya di selangkanganku. Dan sambil melakukan
itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan
denganku. Maka buah dadanya yang berukuran besar dan seperti buah pepaya
menggantung berada tepat di dekat wajahku. Aku tetap tidak bereaksi
kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika
ia mulai mengocok penisku dan menimbulkan kenikmatan tak terkira,
keberanianku mulai terbangkitkan. Payudaranya mulai kujadikan sasaran
sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang,
tetapi karena ukurannya yang tergolong besar masih membuatku bernafsu
untuk meremas-remasnya. Puas meremas-remas, aku mulai menjilati pentilnya
secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku.

Rupanya tindakanku itu membuat gairah Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang
dan kian mengaktifkan sentuhan-sentuhannya di di alat kelaminku.
"Ya Tris, begitu. Ah,.. ah enak. Uh,.. uh..terus terus sedot saja. Ya,..
ya. sshh..ssh.. akhh"

Dengan mulut masih mengenyoti susu Dia secara bergantian kiri dan kanan,
tanganku mulai menyelusur ke bawah. Ke perutnya, lalu turun ke pusarnya
dan akhirnya kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang
hanya sedikit di tumbuhi rambut itu terasa hangat ketika aku mulai
mengusapnya. Rupanya itu merupakan wilayah yang sangat peka bagi seorang
wanita. Maka ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai
menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-lebar memberi keleluasaan padaku
untuk melakukan segala yang yang kuiinginkan. Terlebih ketika jari
telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma
hangat. Tetapi telah basah oleh cairan yang aku yakin bukan oleh air
kencingnya. Aku jadi makin bernafsu untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya
satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos
masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Mengocok dan terus mengocoknya
hingga lubang vaginanya kian becek akibat banyaknya cairan yang keluar. Ia
juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah.
"Ah,.. ah.. ah aku tidak kuat lagi Tris. Ayo sekarang kamu naik ke tubuh
aku," bisiknya akhirnya.

Rupanya ia sudah tidak tahan akibat kemaluannya terus diterobos oleh dua
jariku. Maka tubuhku ditarik dan menindihnya. Dasar belum punya pengalaman
sedikitpun dengan wanita. Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung
dapat menerobos lubang kenikmatan aku kostku. Untung Dia cukup telaten.
Dibimbingnya penisku dan diarahkannya tepat di lubang vaginanya.
"Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan. Soalnya aku sudah lama melakukan
seperti ini," bisiknya di telingaku.

Bleess! Sekali sentak amblas penisku masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Aku memang tidak mengindahkan permintaannya yang memintaku untuk
memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak berpengalaman dan sudah
terlanjur naik ke ubun-ubun gairah yang kurasakan. Hingga ia sempat
memekik saat penisku menancap di lubang vaginanya.
"Auu, ..ah.ah.. pe..pelan-pelan Tris, shh..ssh ..ah..ah,"
"Ma,.. ma.. maaf bu,"
"Iya,.iya. Be,.. besar sekali punya kamu ya Tris,"
"Punyamu juga besar dan enak," kataku sambil terus meremasi kedua
payudaranya.

Namun baru beberapa saat aku mulai memaju mundurkan penisku ke lubang
vaginanya, desah nafasnya kian keras kudengar. Tubuhnya terus
menggelinjang dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Akibatnya baru
beberapa menit permainan berlangsung aku sudah tak tahan. Betapa tidak,
penisku yang berada di liang vaginanya terasa dijepit oleh dinding-dinding
kemaluannya. Bahkan terasa seperti disedot dan diremas-remas.
"Aduh,.. ah.. aku tidak tahan. Ah,..ah..ah..aahh,"

Aku terkapar di atas tubuhnya setelah menyemprotkan cukup banyak air mani
di liang sanggamanya. Indah dan melayang tinggi perasaanku saat segalanya
terjadi. Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat setelah
pengalaman persetubuhan pertamaku itu.
"Maaf Bu cepat sekali punya saya keluar. Jadinya cuma ngotorin"
"Tidak apa-apa Tris. Kamu baru kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa
tahan lebih lama" katanya setelah aku terbaring di sisinya sambil
menenangkan gemuruh di dadaku yang mulai mereda.
Ke bagian 2

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

Thursday, August 7, 2008

Ngewe Sama Ibu Kost


Pagi itu aku tengah sibuk membenahi kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang
baru kutempati sejak sebulan lalu. Maklum, kamar berukuran 3 x 4 meter itu
berdinding papan dan terletak di bagian belakang rumah bersebelahan dengan
kamar mandi. Apalagi papannya sudah banyak yang renggang dan berlubang
hingga bila malam tiba, angin gampang menerobos masuk dan menebarkan hawa
dingin menusuk tulang. Hanya bagiku, mendapatkan kamar kost dengan kondisi
seperti itu pun merupakan anugerah tersendiri.

Sebelumnya aku nyaris patah semangat ketika mendapati harga sewaan kamar
yang rata-rata sangat mahal dan tak terjangkau di kota tempatku kuliah di
sebuah PTN. Hingga ketika Bu Halimah pemilik warung makan sederhana
menawariku untuk tinggal di tempatnya dengan harga sewa yang murah aku
langsung menyetujuinya.

Oh ya, Bu Halimah, ibu kostku itu adalah seorang janda berusia sekitar 45
tahun. Sejak kematian suaminya tujuh tahun lalu, ia tinggal bersama putri
tunggalnya Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di sebuah SMTA di kota
itu. Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana yang dikelola Bu
Halimah dibantu Yu Narsih, seorang wanita tetangganya. Yu Narsih hanya
membantu di rumah itu sejak pagi hingga petang setelah warung makan
ditutup. Pembawaan keseharian Bu Halimah tampak sangat santun. Ia selalu
mengenakan busana terusan panjang terutama bila tampil di luar rumah atau
sedang melayani pembeli di warungnya. Hingga kendati berstatus janda
dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau
menggoda.
"Ada memang laki-laki yang meminta ibu untuk menjadi istrinya. Tetapi ibu
hanya ingin membesarkan Nastiti sampai ia berumah tangga. Apalagi sangat
sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum," katanya
suatu ketika aku berkesempatan berbincang dengannya di suatu kesempatan.

Di tengah kesibukanku memperbaiki dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara
pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama berselang kudengar suara pancaran
air yang menyemprot kencang dari kamar mandi. Padahal di sana tidak ada
kran air yang memungkinkan menimbulkan bunyi serupa. Maka seiring dengan
rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku segera mencari celah lubang di
dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk bisa mengintipnya. Ah,
ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu Halimah. Wanita itu tengah
kencing sambil berjongkok. Mungkin ia sangat kebelet kencing hingga begitu
berjongkok semprotan air yang keluar dari kemaluannya menimbulkan suara
berdesir yang cukup kencang sampai ke telingaku. Aku jadi tersenyum simpul
melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak berniat melanjutkan untuk
mengintip. Namun ketika sempat kulihat pantat besar Bu Halimah yang
membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi terpikat. Posisi jongkok
Bu Halimah memang membelakangiku. Namun karena ia menarik tinggi-tinggi
daster yang dikenakannya, aku dapat melihat pantat dan pinggulnya.

Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata belum banyak kehilangan daya
pikatnya sebagai wanita. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk terus
mengintip, melihat adegan lanjutan yang dilakukan ibu kostku di kamar
mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin dibuatnya. Betapa tidak,
setelah selesai kencing, Bu Halimah langsung mencopot dasternya untuk
digantungkannya pada sebuah tempat gantungan yang tersedia. Tampak ia
telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana dalam
maupun kutangnya. Jadilah aku bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-liku
tubuhnya. Bongkahan pantatnya tampak sangat besar kendati bentuknya telah
agak menggantung. Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak menggantung,
ukurannya juga tergolong besar dengan dihiasi sepasang pentilnya yang
mencuat dan berwarna kecoklatan.

Namun yang membuatku kian panas dingin adalah adegan lanjutan yang
dilakukannya setelah ia mulai mengguyur air dan menyabuni tubuhnya. Sebab
setelah hampir sekujur tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama
memainkan kedua tangannya di kedua susu-susunya. Meremas-remas dan
sesekali memilin puting-putingnya. Sepertinya ia tengah berusaha
membangkitkan dan memuasi birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan
satu tangan yang masih menggerayang dan meremas di buah dadanya, satu
tangannya yang lain menelusur ke selangkangannya dan berhenti di
kemaluannya yang membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu
rambut itu, berkali-kali diusap-usapnya dan akhirnya salah satu jarinya
menerobos ke celahnya. Ah, ia juga mengeluar-masukkan jarinya ke liang
kenikmatannya. Bahkan seperti tidak puas dengan satu jari tengah
tangannya, jari telunjuknya pun ikut dimasukannya. Hingga akhirnya kedua
jarinya yang digunakan untuk mencolok-colok vaginanya.

Aku yakin Bu Halimah melakukan semua itu sambil membayangkan bahwa yang
mencolok-colok liang kenikmatannya adalah penis seorang laki-laki.
Terbukti ia melakukan sambil merem-melek dan mendesah. Membuktikan bahwa
ia mendapatkan kenikmatan atas yang tengah dilakukannya. Disodori
pertunjukkan panas yang diperagakan ibu kostku, aku kian tak tahan.
Kukeluarkan kemaluanku yang telah ikut mengeras dari celana setelah
membuka risleting. Kuremas-remas sendiri penisku sambil membayangkan
menyetubuhinya yang tengah bermasturbrasi.

Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat mengejang, karena menahan birahi yang
tak terbendung dan seiring dengan datangnya puncak kenikmatan yang
didambakan, aku pun kian kencang meremas dan mengocok kemaluanku sambil
terus memelototi tingkah polahnya. Dan tubuhku ikut mengejang dan melemas
ketika dari ujung penisku memuntahkan mani yang menyembur cukup banyak.
Dia tampak kaget dan mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang
berbatasan dengan kamarku. Mungkin ia sempat mendengar erangan lirih
suaraku yang tak sadar sempat kukeluarkan saat mendapatkan orgasme. Namun
karena aku segera menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku.
Tetapi,.. ah.. entahlah.

Hanya sejak saat itu aku sering mencari kesempatan untuk mengintipnya saat
ia mandi. Bahkan juga mengintip ke kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia
memang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan
biologisnya, selama ini wanita itu mendapatkannya dari bermasturbrasi.
Hingga aku sering memergoki ia melakukannya di kamarnya. Dan seperti Dia,
setiap aku mendapatkan kesempatan untuk melihat ketelanjangannya, selalu
aku melanjutkan dengan mengocok sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil
membayangkan menyetubuhi ibu kostku itu. Sampai akhirnya, mengintip ibu
kostku merupakan acara rutin di setiap kesempatan seiring dengan gairah
birahiku yang kian menggelegak.

Sampai suatu malam, setelah sekitar enam bulan tinggal di rumahnya, aku
bermaksud keluar kamar untuk menonton televisi di ruang tamu. Maklum sejak
sore aku terus berkutat dengan diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan
paper salah satu mata kuliah. Namun yang kutemukan di ruang tamu membuatku
sangat terpana. Televisi 17 inchi yang ada memang masih menyala dan tengah
menyiarkan satu acara infotainment dan disetel dengan volume cukup keras.
Namun satu-satunya penonton yang ada, yakni Dia, tampak tertidur pulas. Ia
tidur dengan menyelonjorkan kaki di sofa, sementara daster yang
dikenakannya tersingkap cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya
nampak menyembul terbuka. Biasanya aku akan membangunkan dan
megingatkannya untuk tidur di kamarnya bila memergoki ibu kostku tertidur
di ruang tamu. Tetapi itu tidak kulakukan, sayang kalau pemandangan yang
menggairahkan sampai terlewatkan.

Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu menggeliat dan posisi kakinya kian
terbuka hingga mengundangku untuk melihatnya lebih mendekat. Berjongkok di
antara kedua kakinya. Kini bukan hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati.
Aku juga dapat melihat organ miliknya yang paling rahasia karena ia tidak
mengenakan celana dalam. Bibir luar kemaluannya terlihat coklat kehitaman
dan nampak berkerut. Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan
pria. Sementara di celahnya, di bagian atas, tampak kelentitnya yang
sebesar biji jagung terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan tubuh ibu
kostku sebenarnya telah cukup sering kulakukan saat mengintip. Namun
melihatnya dari jarak yang cukup dekat baru kali itu kulakukan. Degup
jantungku jadi terpacu, sementara penisku langsung menegang. Aku nyaris
mengulurkan tanganku untuk mengusap vaginanya untuk merasakan lembutnya
bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau merasakan hangatnya celah lubang
kenikmatan itu.

Tetapi takut resiko yang harus kutanggung bila ia terbangun dan tidak
menyukai ulahku, aku urungkan niatku tersebut. Dan tak tahan terpanggang
oleh gairah yang memuncak, kuputuskan untuk kembali ke kamar. Untuk
beronani, meredakan ketegangan yang meninggi. Di dalam kamar, kulepaskan
seluruh pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran telanjang diatas ranjang
setelah sebelumnya menarik kain selimut untuk menutupi tubuh. Seperti
itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan keindahan tubuh dan
menyetubuhi ibu kostku. Hanya, baru saja aku mulai mengelus burungku yang
tegak berdiri tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang tak sempat terkunci
dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam.
"Hayo, lagi ngocok yah," suara Dia mengagetkanku.
Ternyata yang membuka pintu dan masuk kekamarku adalah ibu kostku.
"Ti,.. tidak," jawabku dan secara reflek segera kutarik selimut untuk
menutupi tubuhku.
"Jangan bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering mengintip ibu saat mandi
atau dikamar. Juga tadi kamu melihati milik ibu saat tidur di sofa kan?"
katanya lirih seperti berbisik.

Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi malu dan menjadi tegang. Takut
kepada kemarahan Dia atas semua ulah yang tidak pantas kulakukan. Penisku
yang tadi tegak menantang kini mengkerut, seiring dengan kehadiran wanita
itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang telah menelanjangiku. Aku
membungkam tak dapat bisa bicara.
"Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris. Malah, ee.. ibu bangga ada anak
muda yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau,
sekarang kamu boleh melihat semuanya milik ibu dari dekat dan kamu boleh
melakukan apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia serapat-rapatnya,"
ujarnya.

Aku masih belum tahu arah pembicaraan ibu kostku hingga hanya diam
membisu. Tetapi, Dia telah melepas daster yang dikenakannya. Dan dengan
telanjang bulat, setelah sebelumnya mengunci pintu kamar, ia menghampiriku
yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi ranjang di sebelahku. Tak
urung gairahku kembali terpacu kendati hanya menatapi ketelanjangan tubuh
wanita yang lebih pantas menjadi ibuku itu.
"Ayo Tris, jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin
memegang punya aku kan? Ayo lakukan semua yang ingin dilakukan padaku,"
suaranya terdengar berat ketika mengucapkan itu.

Mungkin ia telah bernafsu dan ingin disentuh. Melihat aku tidak bereaksi,
aku kostku akhirnya mengambil insiatif. Tangannya menjulur, menarik
selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Batang penisku yang tegak
mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas.

Selanjutnya
mengelus-elusnya perlahan hingga aku menjadi kelabakan oleh
sentuhan-sentuhan lembut tangannya di selangkanganku. Dan sambil melakukan
itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan
denganku. Maka buah dadanya yang berukuran besar dan seperti buah pepaya
menggantung berada tepat di dekat wajahku. Aku tetap tidak bereaksi
kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika
ia mulai mengocok penisku dan menimbulkan kenikmatan tak terkira,
keberanianku mulai terbangkitkan. Payudaranya mulai kujadikan sasaran
sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang,
tetapi karena ukurannya yang tergolong besar masih membuatku bernafsu
untuk meremas-remasnya. Puas meremas-remas, aku mulai menjilati pentilnya
secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku.

Rupanya tindakanku itu membuat gairah Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang
dan kian mengaktifkan sentuhan-sentuhannya di di alat kelaminku.
"Ya Tris, begitu. Ah,.. ah enak. Uh,.. uh..terus terus sedot saja. Ya,..
ya. sshh..ssh.. akhh"

Dengan mulut masih mengenyoti susu Dia secara bergantian kiri dan kanan,
tanganku mulai menyelusur ke bawah. Ke perutnya, lalu turun ke pusarnya
dan akhirnya kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang
hanya sedikit di tumbuhi rambut itu terasa hangat ketika aku mulai
mengusapnya. Rupanya itu merupakan wilayah yang sangat peka bagi seorang
wanita. Maka ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai
menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-lebar memberi keleluasaan padaku
untuk melakukan segala yang yang kuiinginkan. Terlebih ketika jari
telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma
hangat. Tetapi telah basah oleh cairan yang aku yakin bukan oleh air
kencingnya. Aku jadi makin bernafsu untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya
satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos
masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Mengocok dan terus mengocoknya
hingga lubang vaginanya kian becek akibat banyaknya cairan yang keluar. Ia
juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah.
"Ah,.. ah.. ah aku tidak kuat lagi Tris. Ayo sekarang kamu naik ke tubuh
aku," bisiknya akhirnya.

Rupanya ia sudah tidak tahan akibat kemaluannya terus diterobos oleh dua
jariku. Maka tubuhku ditarik dan menindihnya. Dasar belum punya pengalaman
sedikitpun dengan wanita. Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung
dapat menerobos lubang kenikmatan aku kostku. Untung Dia cukup telaten.
Dibimbingnya penisku dan diarahkannya tepat di lubang vaginanya.
"Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan. Soalnya aku sudah lama melakukan
seperti ini," bisiknya di telingaku.

Bleess! Sekali sentak amblas penisku masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Aku memang tidak mengindahkan permintaannya yang memintaku untuk
memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak berpengalaman dan sudah
terlanjur naik ke ubun-ubun gairah yang kurasakan. Hingga ia sempat
memekik saat penisku menancap di lubang vaginanya.
"Auu, ..ah.ah.. pe..pelan-pelan Tris, shh..ssh ..ah..ah,"
"Ma,.. ma.. maaf bu,"
"Iya,.iya. Be,.. besar sekali punya kamu ya Tris,"
"Punyamu juga besar dan enak," kataku sambil terus meremasi kedua
payudaranya.

Namun baru beberapa saat aku mulai memaju mundurkan penisku ke lubang
vaginanya, desah nafasnya kian keras kudengar. Tubuhnya terus
menggelinjang dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Akibatnya baru
beberapa menit permainan berlangsung aku sudah tak tahan. Betapa tidak,
penisku yang berada di liang vaginanya terasa dijepit oleh dinding-dinding
kemaluannya. Bahkan terasa seperti disedot dan diremas-remas.
"Aduh,.. ah.. aku tidak tahan. Ah,..ah..ah..aahh,"

Aku terkapar di atas tubuhnya setelah menyemprotkan cukup banyak air mani
di liang sanggamanya. Indah dan melayang tinggi perasaanku saat segalanya
terjadi. Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat setelah
pengalaman persetubuhan pertamaku itu.
"Maaf Bu cepat sekali punya saya keluar. Jadinya cuma ngotorin"
"Tidak apa-apa Tris. Kamu baru kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa
tahan lebih lama" katanya setelah aku terbaring di sisinya sambil
menenangkan gemuruh di dadaku yang mulai mereda.
Ke bagian 2

Related Posts by Categories



No comments:

Post a Comment